Arsitektur Tradisional dan Vernakular pada Gereja Toraja di Kelapa Gading Jakarta

Obyek Arsitektur Tradisional/Vernakular
A. Lokasi dan Tempat Demografi

Lokasi dan tempat demografi adalah dikawasan Kelapa Gading, dimana disitu terdapat sebuah gereja dengan desain menggunakan rumah adat Toraja. Gereja tersebut merupakan gereja yang didalamnya terdapat sekumpulan orang yang berasal dari tanah toraja.

B. Asal Muasal Sejarah Tempat

Tana Toraja sering disebut singkatan-nya Tator, adalah sebutan oleh orang-orang Toraja sendiri untuk wilayahnya. Saat ini Tator secara administrasi masuk dalam Kabupaten Toraja, terdiri dari 9 kecamatan dan 32 desa. Luas wilayah 3178 Km2, sebagian besar (40%) terdiri dari pegunungan dan dataran tinggi (25%). Wilayah Tator terletak sekitar 350 Km di utara kota Makassar, antara 2°40′-3°25′ lintang selatan dan 119°30′-120°25′ bujur timur. Di tengahtengah wilayah berbukit-bukit tersebut mengalir dari utara-selatan Sungai Sa’dang yang berpengaruh secara sosial, budaya dan ekonomi masyarakat Toraja Istilah Toraja Sa’dang dipakai untuk menyebut wilayah dan kelompok etnis di kawasan Sungai Sa’dang. Sebutan tersebut untuk mem-bedakan dengan kelompok dan tempat dengan sebutan Toraja-Mamasa, berada di sebelah baratnya beberapa puluh kilometer, dipisahkan oleh lembah dan gunung. Menurut legenda suku Toraja-Mamasa berasal dari suku Toraja-Sa’dang yang merantau ke arah barat, tidak kembali dan membentuk masyarakat Toraja di tempatnya yang baru. Di Tana Toraja terdapat dua pusat be-rupa kota kembar, yang satu Makale berfungsi sebagai pusat administrasi di selatan, lainnya Rantepao 18 Km di utaranya, lebih berfungsi sebagai pusat pelayanan dan jasa .

C. Sistem Kepercayaan dan Religi

Masyarakat Toraja saat ini, sekitar 66% beragama Kristen, 12% Roma Katolik, sekitar 7% Muslim, hanya 16% masih memeluk agamaadat disebut Aluk Todolo. Namun demikian, secara bersamaan masih banyak anggota masyarakatnya melaksanakan adat-kepercayaan Aluk Tomatua upacara ritual bagian dari Aluk Todolo. Dalam kehidupan sehari-hari adat tersebut antara lain terungkap dalam berbagai upacara seperti misalnya Rambu Tuka berarti suka cita atau dalam hal ini perkawinan, upacara memasuki rumah baru. Menurut adat Toraja yang paling penting adalah upacara Rambu Solo yaitu upacara pemakaman.
Aluk Todolo kepercayaan dianut oleh masyarakat Toraja artinya adalah agama/Aturan dari leluhur (aluk = agama/aturan, todolo = nenek moyang)8. Aluk Todolo menurut penganutnya diturunkan oleh Puang Matua atau Sang Pencipta mulanya pada le-luhur pertama Datu La Ukku’ yang kemudian menurunkan ajarannya kepada anak cucunya9. Oleh karena itu menurut kepercayaan ini, manusia harus menyembah, memuja dan me-muliakan Puang Matua atau Sang Pencipta diwujudkan dalam berbagai bentuk sikap hidup dan ungkapan ritual antara lain berupa sajian, persembahan maupun upacara-upacara. Se-telah Puang Matua menurunkan Aluk kepada Datu La Ukku sebagai manusia pertama, ke-mudian memberikan kekuasaan kepada para Deata atau Dewa untuk menjaga dan me-melihara manusia. Oleh karena itu Deata di-sebut pula sebagai Pemel ihara yang menurut Aluk Todolo tidak tunggal tetapi di golongan menjadi tiga yaitu: Deata Langi’ (Sang Pe-melihara Langit menguasai seluruh isi langit dan cakrawala), Deata Kapadanganna (Sang Pemelihara Bumi, menguasai semua yang ada di bumi) dan Deata Tangngana Padang (Sang Pemelihara Tanah, menguasai isi bumi). Masing-masing golongan terdiri dari beberapa Deata yang menguasai bagian-bagian tertentu misalnya gunung, sungai, hutan dan lain-lain10. Selain kepada Deata dengan kekuasa-an masingmasing Puang Mattua atau Sang Penguasa juga memberikan kepercayaan kepada To Membali Puang atau Todolo (Leluhur) yang juga diwajibkan dipuja dan disembah karena merekalah yang memberi berkah kepada para keturunannya11.
Pemujaan kepada ketiga unsur yang masing-masing berupa kelompok Deata tersebut, oleh masyarakat penganut Aluk Todolo diungkapkan dalam bentuk upacara-upacara ritual dengan berbagai sajian, persembahan atau korban. Persembahan ini bermacam-macam bentuk, tempat dan arahnya disesuai-kan dengan ketiga unsur tersebut di atas.
Kepada Para Deata atau Pemelihara, dipersembahkan babi atau ayam dengan mengambil tempat di sebelah timur rumah/ Tongkonan dan untuk Tomembali Puang/Todolo atau Leluhur sebagai pengawas manusia dipersembahkan babi atau ayam di sebelah barat Tongkonan atau di tempat kuburan.12
Adanya kepercayaan terhadap para Dewa tersebut terkait dengan pandangan masyarakat Toraja terhadap tata-ruang jagad raya atau makrokosmos yang dipandang terdiri dari tiga unsur yaitu: langi’ (sorga), lino atau padang berarti bumi dan Deata to Kengkok atau Puang to Kebali’bi’ (Dewa Berekor) artinya bagian di bawah bumi.13

Menurut Tangdilintin, skema kosmo-logi dari masyarakat Toraja d igambarkan: Puang Matua (Sang Pencipta) di Utara/atas/langit tiga kelompok Deata berada di Timur, Tomembali Puang/Todolo di Barat dan bumi tempat kehidupan manusia di bawah.
Jowa Imre Kis-Jovak peneliti dari Belanda, membuat intepretasi kosmologi dari Aluk Todolo dengan gambaran terlihat dalam gambar 3. Ulluna Langi digolongkan ke dalam dunia atas, berada di titik Zenith atau puncak dari bola langit. Permukaan bumi dipandang sebagai Dunia Tengah atau dalam bahasa Toraja disebut Lino sering pula disebut Padang, terletak pada bidang potong tengah bola langi’ yang berarti langit. Dalam hal ini langit diartikan udara atau Puya tempat tinggal jiwa. Di dunia tengah inilah terdapat kehidupan manusia termasuk di dalamnya tongkonan. Menurut interpretasi KisJovak dari hasil penelitian antropologisnya, dunia tengah dalam hal ini terletak di sebelah timur Gunung Bamba Puang dan pohon-pohon palem sebagai pintu keluar-masuk para Dewa di sebelah barat.16 Dunia Bawah terdiri dari Pong Tulak Padang dan roh-roh dalam tanah mendukung dunia tengah rumah dan kediaman manusia di muka bumi. Menurut Kis-Jovak, di luar sistem bola langit di sebelah barat terdapat Pongko’, yang dalam mitos merupakan asal orang Toraja, dibatasi oleh tasik atau laut dengan ketiga bagian dunia tersebut di atas. Cakrawala adalah keseluruhan sebagai pembungkus dunia tengah dipandang sebagai palullungan yang artinya atap. Dunia bawah dipikul oleh Tulakpadang artinya Ia yang memikul bumi dengan kepala dan pohon-pohon palem di tangannya. Ia menjaga keseimbangan dan bermukim 12 tingkat di bawah bumi.
Meski-pun demikian, kadangkadang terjadi ketidak seimbangan karena Indo’ Ongan-ongan istrinya yang suka bertengkar, mengganggu hingga terjadi gempa bumi. Dunia bawah dapat dicapai melalui lobang-lobang belahan dan jurang-jurang.

D. Bahasa
Bahasa yang terdapat di wilayah toraja masih merupakan bahasa asli mereka. Dimana dibeberapa wilayah masih kental dengan bahasa daerah yang digunakan sehari-sehari, kecuali untuk di wilayah perkotaan yang sudah bercampur dengan beberapa bahasa, bahkan tidak menggunakan bahasa daerah dalam kegiatan sehari-hari.

E. Sistem Pemerintahan
Proses perkembangan serta pola interaksi sosial baik antar anggota komunitas maupun antar komunitas dapat mengancam kemandirian atau eksistensi kedaulatan komunitas itu sendiri. Reaktualita dalam menghadapi situasi perubahan dibutuhkan suatu pengorganisasian agar fungsi-fungsi politik, ekonomi dan hukum dapat berjalan sebagai pilar kemandirian atau kedaulatan. Fungsi-fungsi tersebut perlu diemban dan dikawal oleh satu organisasi yang dibangun dan disepakati oleh masyarakat melalui kontak sosial atau kesepakatan melalui musyawarah yang awalnya merupakan embrio dari kelembagaan adat dalam komunitas atau yang lazim di sebut Masyarakat Adat.
Keberadaan lembaga adat dalam Komunitas harus diakui dan diterima oleh seluruh anggota komunitas yang memungkinkan adat-istiadat serta tradisi semakin mapan serta tumbuh berkembang secara dinamis dalam menghadapi perubahan dari waktu ke waktu. Silsilah tersebut diakui dengan sejarah dan peristiwa dari waktu ke waktu khususnya Tongkonan yang berfungsi sampai kepada masa kini.
Identifikasi melalui silsilah serta sejarah perkembangan tiap lembaga adat atau komunitas dalam mempertahankan eksistensinya dapat ditelusuri sehingga merupakan kebanggaan setiap insan Toraja. Bermacam-macam sejarah dengan versi masing-masing baik dalam dongeng rakyat, atau sajak yang diucapkan dalam bahasa tinggi (Kada Tomina) dapat dibuktikan keberadaannya sampai sekarang dalam bentuk budaya adat-istiadat dan upacara-upacara adat. Penamaan Komunitas dengan Tongkonan atau Lembaga adat selamanya dikaitkan dengan nama lokasi atau tanah tempat bermukim.

F. Kesenian
TARIAN TRADISIONAL

Tari Pa’gellu

Tarian ini biasanya dibawakan oleh remaja (biasanya gadis), selama perayaan ucapan syukur, seperti pernikahan, panen, dan untuk menyambut tamu-tamu pada upacara formal. Para gadis menggunakan aksesoris yang terbuat dari emas dan perak dan terdapat dua atau empat remaja laki-laki yang memainkan genderang untuk mengiringi tarian.

Bone Balla’ or Ondo Samalele

Para wanita dan remaja perempuan dari sebuah keluarga besar, yang baru saja menyelesaikan pembangunan Tongkonan mereka, menyajikan tarian ini untuk menunjukan rasa syukur mereka. Tarian ini diiringi oleh lagu yang disebut “Passengo”, sebuah musik untuk memuji Tuhan. Pada bagian akhir tarian, semua anggota keluarga ikut ambil bagian dalam tarian.

MUSIK TRADISIONAL

Passuling

Ini merupakan seruling tradisional Toraja, yang juga dikenal dengan nama “Suling Lembang”. Seruling dimainkan oleh kelompok laki-laki untuk mengiringi “Pa’Marakka” atau lagu duka yang dinyanyikan oleh para wanita. Mereka membawakan seni tradisional ini untuk menyambut tamu, yang hadir untuk menyampaikan rasa duka mereka kepada keluarga yang sedang berduka.

Pa’pelle/Pa’barrung

Sebuah alat musik yang terlihat seperti terompet, terbuat dari jerami yang dirakit dengan daun kelapa. Biasanya dimainkan selama upacara pengucapan syukur setelah menyelesaikan pembangunan rumah Tongkonan.

Pa’pompang/Pa’bas

Pa’pompang merupakan sebuah orkestra bambu yang dimainkan oleh murid yunior selama upacara nasional, seperti Hari Kemerdekaan, ulang tahun kota, dan festival nasional. Para murid memainkan lagu-lagu kontemporer, lagu daerah, dan lagu gereja.

Pa’tulali

Sebuah alat musik bambu berukuran kecil yang dimainkan dengan cara ditiup untuk menghasilkan suara yang indah.

Pa’geso’geso’

Sebuah alat musik yang terbuat dari kayu dan batok kelapa dengan senar.

UPACARA TRADISIONAL

Di kebudayaan Toraja, babi dan kerbau adalah hewan-hewan utama untuk dikorbankan pada setiap upacara, terutama Rambu Solo atau upacara pemakaman Toraja dan Rambu Tuka atau upacara pengucapan syukur Toraja. Sebagai hewan yang istimewa, harga kerbau di Toraja bisa sangat mahal dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Satu kerbau “putih” besar harganya bisa mencapai sepuluh juta rupiah.

Rambu Tuka (Upacara Pengucapan Syukur)

Ini adalah upacara tradisional yang diadakan oleh sebuah keluarga atau bahkan seluruh desa. Biasanya disertai dengan mengorbankan ayam, babi atau kerbau untuk menunjukan rasa syukur kepada Tuhan atas musim panen atau “Tongkonan” baru.

Sebagai bagian dari upacara, tari Manimbong akan dibawakan oleh laki-laki yang memakai pakaian tradisional khusus yang disebut “Baju Pokko” dan “Seppa Tallu Buku”, yang dihiasi dengan parang kuno.

Rambu Solo (Upacara Pemakaman)

“Rambu Solo” merupakan upacara pemakaman terbesar di Tana Toraja yang diadakan oleh keluarga duka. Keluarga harus mempersembahkan banyak kerbau besar, babi, dan binatang lain pada upacara ini, tergantung pada status sosial dari keluarga duka. Biasanya upacara ini menjadi daya tarik yang cukup besar bagi para wisatawan.

Dipengaruhi oleh kepercayaan setempat, yaitu “Aluk Todolo”, orang Toraja percaya bahwa hal buruk mungkin terjadi jika keluarga yang ditinggalkan tidak mengadakan upacara, tetapi saat ini banyak keluarga melakukan Rambu Solo ini sebagai bagian dari tradisi mereka.

Upacara Rambu Solo terdiri dari beberapa jenis, yaitu “Disilli”, yaitu upacara pemakaman untuk anak-anak atau balita dengan mengorbankan satu ekor babi saja; “Dipasangbongi”, yaitu upacara pemakaman untuk remaja dan orang dewasa dari kelas terendah, yang biasanya berlangsung semalman dengan mengorbankan satu kerbau dan empat babi; “Dipatallung Bongi”, yaitu upacara pemakaman untuk kelas menengah yang dilakukan selama tiga malam dengan mengorbankan empat kerbau dan banyak babi; “Dipapitung Bongi”, yaitu upacara pemakaman selama tujuh hari untuk kelas paling tinggi dengan mengorbankan banyak kerbau dan babi; dan “Dirapai”, yaitu upacara pemakaman termewah untuk kelas sosial paling tinggi yang berlangsung selama lebih dari satu tahun dan membutuhkan sekitar 24 kerbau dan ratusan babi besar untuk dikorbankan.

Di bawah ini adalah beberapa ritual yang menjadi bagian dari upacara ini. :

Ma’pasilaga Tedong

Ini adalah adu kerbau air atau dikenal sebagai “Ma’pasilaga Tedong “. Adu kerbau adalah salah satu bagian hiburan pada upacara pemakaman. Berbeda dengan banteng di Spanyol yang dilakukan antara matador dengan seekor, banteng, adu kerbau di Toraja ini hanya dilakukan oleh dua ekor kerbau saja.

Sisemba

Ini adalah sebuah “pertunjukkan” dari sekelompok laki-laki atau anak laki-laki yang mencoba memukul atau menendang kaki lawan hanya dengan menggunakan kaki mereka, sehingga terlihat seperti sedang berperang. “Perkelahian” ini dianggap sebagai sebuah permainan yang adil, karena tidak pernah “menyerang” seseorang yang berada di tanah sambil mengangkat tangannya.

Bagi mereka yang tidak terbiasa dengan budaya semacam ini, ini dapat dilihat sebagai pertandingan keras. Sama seperti beberapa orang yang tidak suka tinju atau permainan kasar lain karena alasan yang sama. Namun, pertunjukkan tradisional ini menjadi hal yang langka untuk dilihat saat ini.

Ma’tinggoro Tedong / Pembantaian Kerbau

Sebuah tradisi di mana seorang pria menebas leher kerbau yang sudah ditambatkan pada sebuah batu besar dengan golok tajam. Ini adalah prosesi akhir dari ritual “Rambu Solo”.

Untuk sebagian orang, prosesi ini dapat dilihat sebagai suatu tindakan kejam, namun untuk sebagian orang lagi mungkin saja mereka melihatnya dari perspektif yang berbeda, seperti dari sudut pandang budaya dan sebagainya. Sama seperti di negara lain, beberapa orang bisa menerima konsep adu banteng (antara manusia dan banteng = “matador”) tetapi ada juga yang tidak dapat menerimanya.

G. Peralatan dan Teknologi
Perubahan Teknologi Pertanian Pembahasan tentang Teknologi Pertanian dibatasi pada teknik budidaya atau pra panen dan pascapanen yang dilakukan oleh masyarakat tani di lokasi penelitian. Hasil survei menunjukkan bahwa pada era desentralisasi sekarang telah terjadi perubahan komponen-komponen teknologi pertanian di Tana Toraja. Komponen-komponen tersebut meliputi: pengolahan tanah (pariu), jenis benih (banne), penanaman (mantanan), pemeliharaan (ma’tora), pemanenan (mepare), pengangkutan (diba’a), pengeringan (mangalloi), penyimpanan dan pengolahan. Dari sisi waktu kapan mulai terjadi perubahan, jawaban responden cukup beragam. Tujuh responden menyatakan perubahan telah berlangsung sejak 10 tahun yang lalu, 10 respoden menyatakan sejak 15 tahun yang lalu, 13 responden menjawab 20 tahun yang
lalu dan hanya 5 responden yang mengatakan perubahan telah terjadi sejak lebih dari 20 tahun yang lalu.

Untuk pertanyaan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya perubahan, hanya 4 responden yang menyatakan bahwa perubahan teknologi pertanian merupakan inisiatif petani sendiri (faktor internal). Jawaban atas pertanyaan yang lebih mendalam (depth interview), kira-kira apa yang mendorong munculnya inisiatif sendiri tersebut adalah:
• tayangan televise
• pengalaman melihat dari daerah lain yang lebih maju
• ada kebutuhan dari diri sendiri untuk meningkatkan diri dengan memperbarui teknologi yang ada.

Deskripsi Perubahan Teknologi Pertanian Telah terjadi perubahan mendasar pada berbagai kegiatan budidaya pertanian di Tana Toraja terutama yang menyangkut berbagai upacara adat. Berbagai bentuk upacara
seperti mangkaro kalo’ (sebelum tanam), menamu (ketika padi sudah mulai berisi), mepase (ketika padi akan dipotong, manglika (menaikkan padi ke lumbung), dan buka allang (mengambil padi dari lumbung) sekarang sudah tidak dilakukan lagi. Hal ini terkait dengan semakin sempitnya waktu masyarakat tani dan perhatian terhadap upacara tersebut yang semakin menurun.

Beberapa kegiatan teknologi pertanian lainnya, baik pra panen dan pasca panen
juga telah mengalami perubahan seperti ditunjukkan pada Tabel 1. Jika diamati,
perubahan teknologi pertanian yang terjadi di Desa Lembang Turunan saat ini
keadaannya tidak jauh berbeda dengan daerah pertanian dataran rendah lain. Tetapi dari wawancara mendalam diketahui bahwa perubahan tersebut lebih lambat dibanding dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan karena hasil pertanian padi bukan merupakan satu-satunya tumpuan bagi keluarga di Toraja, meskipun padi merupakan lambang kemakmuran bagi keluarga, yang ditandai dengan banyaknya lumbung yang dimiliki.

H. Mata Pencaharian
Para perajin parang tersebar di berbagai wilayah Toraja. Namun kalau Anda ingin melihat proses pembuatannya, maka datanglah pada hari pasaran (6 hari sekali) yang digelar di Rantepao. Hari pasaran ini merupakan pasar terluas di Toraja, dengan keistimewaan perdagangan kerbau dan babi yang sangat besar.

Tanah lapang luas yang menampung kerbau dengan para penjualnya bersisian dengan kios-kios para perajin parang. Sistem pembuatan parang tradisional yang cukup cepat pengerjaannya bisa disaksikan di sini. Anda juga bisa menemukan perajin parade di Desa La’ Bo’, Kelurahan Sangga Lange (terusan arah Kete’ Kesu), yang selain bertani, mereka juga membuat parang dan dengan senang hati mereka akan memperlihatkan cara pembuatannya. Tentu saja, sebagai rasa terima kasih, selayaknya Anda memberikan penghargaan berupa tips (min. Rp. 10.000,-) atas peragaan yang mereka sajikan, atau beli parangnya dengan harga sekitar Rp. 65.000,-. Namun harus diakui, parang dan pedang yang dijual di pasar permanen Rantepao lebih halus buatannya, tentu dengan harga yang lebih variatif, sesuai dengan model, ukuran dan motif yang ada.

Budaya adalah salah satu harta berharga yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Perlu pemeliharaan dan kepedulian agar warisan budaya tidak semakin tergerus oleh budaya asing. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk tetap mempertahankan budaya. Seperti halnya kain tenun Toraja. Budaya tenun di Toraja telah menjadi warisan secara turun temurun, dengan tetap mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang kegiatan menenun. Sehingga, diharapkan tenun Toraja takkan hilang ditelan jaman.
Selain itu, karena tenun telah menjadi salah satu sumber mata pencaharian yang berbasis budaya, maka aktivitas tersebut sangat membantu melestarikan budaya itu sendiri.

I. Sistem Pengetahuan
Tanah Toraja terdapat beberapa kesenian yang dapat memberikan suatu pengetahuan secara tak langsung tentang adat dan istiadat serta pengetahuan tentang sejarah Tanah Toraja. Diantaranya kesenian upacara Rambu Tuka’.

Upacara syukuran atau Rambu Tuka’, antara lain adalah upacara perkawinan, maupun selamatan rumah (membangun rumah, merenovasi atau memasuki rumah baru). Upacara selamatan rumah disebut juga upacara pentahbisan rumah. Upacara jenis ini harus dilaksanakan pagi hari dan diharapkan selesai di sore hari. Pemotongan hewan korban juga dilakukan, namun jumlahnya tidak sebanyak saat upacara kematian. Itu juga yang menyebabkan banyak anggapan bahwa upacara kematian di Tator memang lebih meriah dibandingkan upacara lainnya.

J. Daur Hidup
Mayoritas penduduk suku Toraja, hingga enam puluh persen masih memegang teguh kepercayaan nenek moyangnya, maka adat istiadat yang ada sejak dulu tetap dijalankan sekarang. Sebagai penganut Aluk Todolo masyarakat Suku Toraja mengenal dan masih melestarikan dua ritual besar dalam daur hidupnya, yaitu: Upacara kegembiraan yang disebut Rambu Tuka dan upacara kedukaan yang disebut Rambu Solok.

Upacara Rambu Solok adalah jawaban dari ketidakpastian akan misteri kehidupan setelah mati, agar terhapuskan segala kekhawatiran akan nasib si mati di alam baka. Karena ajaran Aluk Todolo menurut orang Toraja berisi konsep kepercayaan terhadap alam kehidupan setelah mati.

Ajaran ini menganggap bahwa arwah seseorang setelah mati tidak hilang begitu saja melainkan kembali ke suatu tempat yang dianggap sebagai alam arwah atau sebagai tempat asal-usul leluhur mereka. Karena itulah, di dataran tinggi Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan, upaya untuk menguak misteri itu telah menciptakan sebuah prosesi religius yang begitu rumit, kompleks, dan memakan banyak tenaga serta biaya.

Pada awalnya, tata cara upacara Rambu Solok dalam kepercayaan Aluk Todolo, terogolong upacara yang rumit dan kompleks. Karena dalam upacara Rambu Solok meliputi tujuh tahapan, yaitu: Rapasan, Barata Kendek, Todi Balang, Todi Rondon, Todi Sangoloi, Di Silli, Todi Tanaan. Secara umum tujuan dari upacara yang termasuk kelompok Rambu Solok adalah untuk keselamatan arwah leluhur di alam puya dan kesejahteraan serta keselamatan manusia di dunia.

Namun, sejak masuknya agama Kristen, Katolik, dan Islam, beberapa bagian prosesi telah dihilangkan. Kini, secara umum, ada empat bagian prosesi yang masih terus dilakukan, yaitu Mapalao, penerimaan tamu, penyembelihan kerbau, dan penguburan.

Dalam pelaksanaan upacara Rambu Solok tersebut dipergunakan berbagai sarana termasuk beberapa peninggalan budaya megalitik yang dapat tahan lama, seperti menhir, lumpang batu, dan karopik. Berdasarkan fungsinya dapat diketahui jenis peninggalan yang dipergunakan sebagai sarana pemujaan untuk keselamatan arwah leluhur di alam puya, yaitu menhir jenis pesungan banek, menhir jenis simbuang, lumpang batu, karopik, dan kandean dulang. Selain itu puluhan ekor kerbau dan babi mesti dikorbankan dengan melibatkan massa secara kolosal dan membutuhkan dana puluhan hingga ratusan juta bahkan milyaran rupiah.

Mapalao adalah proses membawa jenazah ke pusat prosesi, yaitu di rumah adat Tongkonan. Mapalao dilakukan dengan mengarak keranda jenazah dari rumah tinggal menuju Tongkonan keluarga. Di sanalah, jenazah disemayamkan sementara waktu di sebuah Lakean yang terletak di ujung Tongkonan.

Selang beberapa jenak keluarga menerima kedatangan para tamu untuk memberi penghormatan terakhir kepada almarhum. Kedatangan tamu akan ditandai bunyi lesung yang ditabuh sejumlah wanita.

Para tamu datang dalam kelompok-kelompok kerabat sambil membawa hewan seperti kerbau dan babi untuk disumbangkan. Kemudian tuan rumah segera membawa mereka ke Lantang dan menyediakan hidangan. Di saat yang sama, alunan kidung kesedihan dari penari Renteng sengaja dilantunkan untuk menggambarkan sejarah hidup almarhum.

Kemudian, hewan yang telah diterima keluarga, baik dari sumbangan maupun keluarga sendiri akan dihitung oleh panitia yang terdiri dari keluarga, aparat desa, dan masyarakat adat. Untuk disembelih satu persatu di depan Tongkonan dan keranda jenazah.

Setelah semua rangkaian upacara telah dilewati maka saatnya dilakukan penguburan. Kuburan suku Toraja berada di atas bukit-bukit batu, bukan di bawah tanah. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan akan keselamatan arwah leluhur di alam puya, yang sangat tergantung kepada pemenuhan syarat-syarat yang dibutuhkan sesuai dengan ketentuan adat. Seperti berbagai tahapan upacara, bekal berupa korban persembahan dan bekal kubur dan perlakuan-perlakuan lainnya setelah seseorang meninggal. Sehingga ada keyakinan bahwa semakin menantang proses penguburan maka semakin tinggi pula derajat keluarga yang meninggal.

Pelaksanaan penguburan dilakukan pada beberapa jenis kuburan baik secara langsung (kubur primer) maupun tidak langsung (kubur sekunder), baik mempergunakan wadah tertentu seperti erong maupun tanpa wadah seperti pada kubur jenis sillik.

Jenis Liang Sillik diperuntukkan bagi strata sosial yang berasal dari Tanak Kua-Kua (strata sosial rendah). Yaitu penguburan pertama tanpa menggunakan wadah tertentu. Sedangkan strata sosial menengah dan tinggi, dikuburkan pada jenis Liang Erong, Liang Tokek, Liang Pak, dan Patane, yang mempergunakan wadah erong, baik yang berfungsi untuk penguburan pertama maupun untuk penguburan kedua. Penguburan kedua hanya berlaku bagi para bangsawan tinggi dan keluarganya.

K. Sandang, Pangan, Papan

L. Peralatan
Pada masyarakat Toraja terdapat bermacam-macam teknologi yang digunakan seperti :

Alat Dapur :
• La’ka sebagai alat belanga
• Pesangle yaitu sendok nasi dari kayu
• Karakayu yaitu alat pembagi nasi
• Dulang yaitu cangkir dari tempurung
• Sona yaitu piring anyaman

Alat Perang / Senjata Kuno :
• Doke atau tombak untuk alat perang dan berburu
• Penai yaitu parang
• Bolulong yaitu perisai
• Sumpi atau sumpit

Alat Perhiasan :
• Beke – ikat kepala
• Manikkota – kalung
• Komba – gelang tangan
• Sissin Lebu – cincin besar

Alat Upacara Keagamaan :
• Pote – tanda berkabung untuk pria dan wanita
• Tanduk Rongga – Perhiasan dikepala
• Pokti – tempat sesajen
• Sepui – tempat sirih

Alat Musik Tradisional :
• Geso – biola
• Tomoron – terompet
• Suling Toraja

M. Arsitektur Bangunan
Dalam kompleks rumah adat terdapat beberapa tipe unit bangunan yang masingmasing mempunyai ukuran, bentuk dan lain-lain elemen arsitektural berbeda. Secara garis besar, dari segi fungsinya, terdapat dua jenis bangunan adat berbeda. Tongkonan atau rumah untuk tempat tinggal dalam arti tidur, makan, istirahat, di mana pada umumnya mempunyai tado’-tado’ (teras depan), tado’ (ruang tamu), ba’ba atau tambing (ruang tidur) dan lambun (dapur). Jenis unit lainnya adalah alang se-macam lumbung berbentuk mirip dengan tongkonan tetapi lebih kecil dan hanya terdiri dari satu ruang di atas untuk menyimpan padi.
Kuburan juga merupakan elemen penting dalam kehidupan masyarakat Toraja. Jenasah anggota masyarakat Toraja yang meninggal tidak dikebumikan sebelum upacara kematian. Mayat sebelum upacara kematian dianggap dan diperlakukan, disimpan dalam rumah atau tongkonan, diberimakan seperti layaknya orang masih hidup. Upacara ritual kematian menurut adat Toraja cukup kompleks, melibatkan semua masyarakat memakan waktu berhari-hari. Barulah acara terakhir dari upacara ritual sangat kompleks tersebut jenasah dimakamkan sebetulnya lebih tepat disemayamkan di lobang dipahat di tebing atau lereng bukit membentuk semacam goa.
Secara detail arsitektur tongkonan dan alang atau semacam lumbung, mempunyai beberapa tipe atau jenis yang meskipun secara keseluruhan bentuknya sama tetapi ada per-bedaan dalam besaran (ukuran), tata ruang (denah), bentuk, bahan, konstruksi, dekorasi dan lain-lain aspek arsitektural.

Tata unit
Tiga desa adat yaitu Palawa salah satu kompleks desa adat terbesar, Ketekesu’ dianggap terindah dari desa-desa adat di Toraja dan Siguntu kompleks desa adat berukuran sedang (dari segi luas, jumlah alang dan lumbung) mempunyai pola, tata-letak dan orientasi kosmis sama. Ketiganya terdiri dari sejumlah tongkonan, berderet dalam arah matahari terbit dan matahari tenggelam. Deretan tongkonan menghadap ke sebuah halaman luas memanjang terbentuk oleh deretan tongkonan tersebut dengan deretan lumbung atau alang. Halaman ini berupa ruang terbuka (+) positif, istilah dipakai untuk menyebut ruang luar terbentuk oleh dua dinding berhadapan, bila tongkonan dan lumbung dipandang sebagai dinding.
Bila dereten tongkonan dipandang sebagai unsur pertama dalam kompleks rumah adat Toraja, deretan lumbung atau alang sebagai unsur ke dua, halaman di antara kedua deretan sebagai unsur ke tiga, maka unsur ke empat adalah kuburan telah disebut di atas tempat pemakaman di lobang-lobang dipahat di tebing biasanya batu karang. Kuburan berada di belakang dari deretan tongkonan, berupa tebing22. Bila dalam tata-letak ketiga kampung adat ditarik garis melebar sejajar dengan deretan tongkonan, lumbung dan halaman di antaranya, maka akan terbentuk garis sumbu arah matahari terbit-tenggelam atau arah timur barat. Bila ditarik garis tegak lurus dari sumbu timur-barat tersebut maka akan terbentuk sumbu lainnya melintang utara-selatan.
Halaman tengah di antara deretan alang dan tongkonan, mempunyai funsgi majemuk, antara lain tempat bekerja, menjemur padi, bermain anak-anak selain pula menjadi “ruang pengikat” dan penyatu dalam kompleks. Yang terpenting dalam kaitan dengan Aluk Todolo, halaman ini menjadi tempat melangsungkan berbagai kegiatan ritual terutama dalam upacara kematian atau pe-makaman jenasah. Kenyataan ini membuktikan adanya fungsi mejemuk dari unsur-unsur ada di dalam arsitektur tradisional termasuk fungsi sosial.
Dalam kosmologi dari Aluk Todolo arah matahari tenggelam (barat) dipandang tempat bersemayam arwah leluhur, sebagai arah kematian dan masa lampau. Ke-mungkinan besar pandangan ini terbentuk karena selama puluhan tahun, ratusan bahkan beberapa ribu tahun masyarakat Toraja tradisional selalu “menyaksikan” tenggelamnya matahari yang berarti perubahan dari terang ke gelap malam.
Sebaliknya arah matahari tenggelam dipandang sebagai arah kelahiran, masa datang karena terjadi perubahan dari gelap menjadi terang. Arah matahari terbit dalam Aluk Todolo dipandang sebagai tempat bersemayam tiga Dewa (Deata) yang ketiganya berkaitan dengan kehidupan dan pemelihara bumi.

A. Unit-unit baru (tidak mengikuti tradisi).
Rumah-rumah atau tongkonan dan lumbung atau alang dalam sebuah desa adat Toraja, tidak dibangun dalam sekali waktu, namun bertahap dan satu dengan lain berbeda waktu pembangunan cukup lama. Jumlah masing-masing menunjukkan kategori sosial-ekonomi dari keluarga pemiliknya. Rumah tertua berada di ujung arah matahari tenggelam atau barat, dan berturut-turut ke arah mata hari terbit yang lebih baru dari sebelumnya24. Di sini terlihat kembali proses pembangunan tongkonan dan lumbung dalam kaitannya dengan kosmologi adat Toraja, Tata-letak desa adat Toraja berjejer berhadapan membentuk halaman pemersatu di tengah. Pola ini identik dengan cukup banyak arsitektur tradisional dan bahkan yang primitif, di banyak tempat di dunia ini. Halaman semacam ini terbentuk oleh naluri kelompok masyarakat untuk menjadi tempat berkumpul, melangsungkan upacara, bekerja, bermain dan aktifitas sosial lainnya.
Dari segi tata-letak tersebut maka teori menyatunya manusia dengan manusia, manusia dengan dalam arsitektur alam juga jagad raya, pada tata-letak kompleks kampung atau desa adat Toraja adalah nyata.

Bentuk dan konstruksi
Unit untuk tidur, istirahat, memasak dan makan atau tongkonan,27 berbentuk segi empat panjang dengan sisi panjang berada pada arah matahari terbit dan tenggelam28. Dalam lingkungan tiga desa adat dibahas di sini sisi terpendek yang berada di depan dan belakang, berukuran bervariasi antara 3-4 M. Lebar dibanding panjang bervariasi antara 1 : 2 hingga satu dibanding 2, 5, jadi panjang sekitar 8 M hingga 10 M29.
Tongkonan selalu berbentuk kolong, hanya bervariasi pada tinggi rendah. Konstruksi kolom dan balok dari kayu mem-bentuk elemen horizontal dan vertikal, merupakan ciri umum dari arsitektur tradisional lambang dari ikatan antara manusia dan alam. Dari segi konstruksi, jumlah dan besaran kolom dapat disebut over design, artinya terlalu kuat untuk menyangga bagian di atasnya. Seperti terdapat dalam banyak hal rumah tradisional, secara jelas tongkonan terbagi tiga di mana terlihat sebagai menifestasi dari kosmologi adanya dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah. Selain itu terlihat jelas adanya personifikasi rumah terdiri dari kepala, badan dan kaki. Bagian-bagian dari konstruksi hingga detail dan kecil mempunyai sebutan baku, juga sebagai ungkapan adanya personifikasi di mana rumah seperti manusia juga mempunyai bagianbagian dengan sebut-an dan fungsi masingmasing (gambar 6)
Di antara tiang kolong, yaitu di tengah agak ke belakang ada yang disebut a’riri (tonggak) posi (pusat) dihias dan diukir berbeda dengan lainnya. A’riri posi yang artinya adalah tonggakpusat, dalam adat Toraja lambang dari menyatunya manusia dengan bumi. Biasanya berukuran 22×22 Cm, dibagian atas sedikit mengecil sekitar 20×20 Cm30.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s